12.HAKIKAT ISTIQAMAH

Menghadapi satu episode permasalahan….. Dipenuhi pikiran liar,  merasa mampu, yang membawa kpd kegaulauan,  kegelisahan dan  ketakutan………pd hal….akhir episode itu  tdk spt yg dipikirkan td,  dicemaskan td,  ditakutkan td……Fa’lulyumayurid….tak diduga,  tak disangka,  tak pernah terpikirkan oleh pikiran,  tak pernah terlintas di hati………….di akhir episode,  barulah kita “ngeh”…….

Lalu episode2 yg lainpun di mulai lg…..dg akhir episode nya membuat kita “ngeh”  lagi,  di ajarkanNya dg mata pelajaran “ngeh”…………bukan mauku,  inginku,  kehendakku,  MauNya,  inginNya,  KehendakNya lah yg jadi…………..dimampukanNya utk selalu “ngeh” sepanjang episode atau istilah lainnya ngeh yg berterusan …. Itulah ISTIQAMAH……..
Dalam kurikulum,  jenjang2 Istiqamah boleh2 saja menjadi ukuran……………namun byk jg,  yg belum melaksanakan istiqamah,  atau baru jalan istiqamah ,  namun sudah layak utk masuk kurikulum yg jauh di atasnya…………dg pandangan bgm kah melihat hal spt itu…..??  Tentulah dg pandangan “ngeh”….. 

11.WAFAT DG HUSNUL KHOTIMAH

Mati yang baik adalah melalui proses Husnul Khotimah…..Husna artinya Baik. Khotimah artinya Menutup.
Secara hakekat Husnul Khotimah adalah suatu proses menutup Pintu Kehidupan dg baik, agar aliran kehidupan mengumpul di “Pusat Sujud”, sehingga kita mengalami mati dlm keadaan “sujud”……..
Proses ini harus dilatih terus menerus, di waktu pagi dan petang,  dalam keadaan berdiri,  duduk dan berbaring…… sampai tiba waktunya kita wafat, kalau tidak, maka tdk akan tercapai mati dg nilai wafat….

Ketahuilah, sesungguhnya terdapat perbedaan yg mendasar antara meninggal dunia dg nilai wafat dan meninggal dunia dg nilai mati….

Wafat adalah tunai atau menunaikan dg sempurna, di tulisan ttg Ahlul Bait dikatakan tdk “berhutang” dan tdk “berdusta”….Jadi secara hakekat wafat mempunyai makna menunaikan misi kehidupan dg baik dan sempurna….
Apakah misi hidup manusia di dunia ? Yaitu menjadi Khalifah-Nya. Khalifah artinya pengganti (mampu mewujudkan wujudNya) … Syarat utama menjadi Khalifah-Nya adalah mengenal-Nya yg diawali dg menemui-Nya. Kemudian selalu menjaga habluminallah dan juga habluminanas dlm shalatul daim nya….

Ketika seorang yg sudah menjadi khalifah Allah meninggal dunia, yaitu matinya semua fungsi organ tubuhnya, maka orang itu dikatakan dg istilah wafat yaitu meninggalkan dunia dg misi yg telah ia tunaikan….
Tetapi sebaliknya, jika orang itu meninggalkan dunia dlm keadaan belum menjadi khalifah Allah, maka org itu meninggal dunia dalam keadaan menjadi mayit atau jenazah……
Jadi dapat disimpulkan bahwa, orang wafat itu sudah pasti mati akan tetapi orang yg mati belum tentu wafat…..

10.TEMPAT SUCI

Kau bangunkan untukKu sebuah tempat suci yg terbatas. Sdg Aku adalah kesucian yg tak terbatas……

Bila kau tak sungguh2 mengenalKu, bgm kau akan mengenali rmh suciKu yg tak terbatas…….

Tempat suci mu adalah tempat terbatas utk mu sendiri menyucikan diri, agar bisa melht rmh suciKu……. Bila di tempat yg kau sucikan itupun kau blm mencapai kesucian pikiran dan Jiwa, bgm kau akan mengenali kesucianKu yang tak terbatas?…..

Sebgm semesta raya ini adalah rumah suciKu, begitulah semesta kecil tubuh mu adalah rmh suci Jiwa yg mesti kau jaga kesuciannya……..

Sdg pada mrk yg kau sebut penuh noda, kedtgan mrk mendekatiKu lah jalan utk melebur noda mrk ke dlm vibrasi kesucianKu….. Yg ternoda akan terhapus nodanya ketika melebur dg Ku……

Tiba2 Sang Pemilik rumah suci itu menyentak membangunkan pemahamanku yg sdg tertidur pulas dlm kegelapan malam….

Ada tahapan2 yg mesti dilalui dlm mensucikan dan disucikan…… Jgn jalan ditempat,  atau berhenti di bawah naungan kerindangan di saat terik mentari menyengat…….jika kau tdk terus berjalan melewati lembah itu……. di malam harinya lembah itu dipenuhi srigala2 lapar…..

9.AHLUL BAIT

Qalbun mu’min BAIT ULLAH….. qalbu org beriman itu rmh Allah…

siapakah AHLUL BAIT itu……?? yaitu KELUARGA BESAR RASULULLAH……
Siapakah keluarga besar Rasulullah itu atau dg kata lainnya Umat Muhammad SAW..??

1.  Yg telah pernah “memasuki”  Bait itu, “jumpa dan kenal ” dg sipemilik rumah…

2. Selalu menyaksikan cahaya yg melebihi 1000 bln, Asyroqal badru ‘alaina, fakhtafat minhul buduru, anta samsun anta badrun anta nurun faqa nuri….

Rombongan pertama yang memasuki surga rupa mereka bagaikan bulan saat purnama dan rombongan berikutnya yang mengiringi mereka bagaikan bintang yang sangat terang cahayanya. Hati mereka bagaikan hati seorang laki-laki yang tidak pernah berselisih dan . . .(HR Bukhari)

Sesungguhnya ummatku itu akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya dari sebab bekas-bekasnya berwudhu’…..(Dari Abu Hurairah)

Telah menceritakan kepada kami [Harmalah bin Yahya] telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahb] dia berkata, telah mengabarkan kepadaku [Yunus] dari [Ibnu Syihab] dia berkata, telah menceritakan kepada kami [Sa’id bin al-Musayyab] bahwa [Abu hurairah] telah menceritakan kepadanya, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tujuh puluh ribu dari umatku akan masuk surga (tanpa dihisab), wajah mereka bersinar seperti sinar bulan purnama.” Abu Hurairah berkata, “Ukkasyah bin Mihshan al-Asadi berdiri mengangkat jubah putih bergaris-garis di atasnya seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk golongan mereka.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah, jadikanlah dia termasuk golongan mereka.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu telah didahului oleh Ukkasyah’.”……( HR Muslim 318)

3.  yg  membersihkan HATI dan PIKIRAN nya……takhalli,  tahalli,  tajjali…

4. yg mampu melepaskan kemelekatan2 dirinya dg jln menutup pintu….mi’raj pd waktu pagi dan petang,  dlm keadaan berdiri,  duduk dan berbaring…

4. ashalatul mi’rajul mu’minin…

5. yg tiada ber “hutang” dan tiada ber “dusta”…….tiada membawa beban apa2 ttg urusan dunia dan akhirat nya dan tidak menjadi saksi palsu dlm penyaksian…..

qod’aflaha man’tazaka (sungguh beruntunglah org2 yg membersihkan dirinya)
faza karas marobihi fa’sholla (dan dia ingat Tuhannya, lalu dia mendirikan sholat) ….

ahlul bait ini bisa untuk siapa- saja – kpd siapa saja yg Dia Kehendaki…..

7.HAMBA

Siapakah hamba Allah itu….?? Apakah yg bersedekah tdk mau disebut namanya,  diganti saja sebutannya dg hamba Allah….??  Atau panggilan utk diri sendiri sewaktu ber doa….??  dsb…

Pada suatu keadaan,….. dalil mengatakan , bahwa ALLAH SWT telah bersabda : kun ana rabbi ma abdi, kun ana abdi ma rabbi, lam yakun syaian .artinya ” kalau Aku Tuhan mana hambaKu, kalau Aku hamba mana Tuhanku, sesuatupun belum ada……
Tuhan ya Tuhan…. Hamba ya hamba

DimampukanNya mencapai derajat,  kondisi,  keadaan, pencapaian tertinggi  spiritual yg diKehendakiNya………. disitulah kedudukan hamba……..
Seperti……….dimampukanNya dlm kesadaran sejati……tiada daya upaya,  tiada ujud diri…… disitu pulalah kedudukan hamba….

Ibnu Athaillah As Sakandari mengatakan,
“Jika engkau berkeyakinan bahwa engkau sampai kepada-Nya hanya setelah lenyapnya semua keburukanmu dan sirnanya semua hasratmu, maka engkau selamanya tidak akan sampai kepada-Nya. Akan tetapi, jika Dia menghendakimu sampai kepada-Nya, Dia akan menutupi sifatmu dengan sifat-Nya, watakmu dengan watak-Nya. Dia membuatmu sampai kepada-Nya dengan kebaikan yang diberikan-Nya kepadamu…

6.” BIRRUL WALIDAIN “

Dari Anas Bin Nadzr Al~Asyja’i, Beliau bercerita, suatu Malam Ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud Meminta air minum kpd anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu telah ketiduran. Ahirnya Ibnu Mas’ud Berdiri di dekat kepala Ibunya sambil memegang wadah berisi air HINGGA PAGI.
(Kitab karya Ibnu Jauzi)

Sufyan Bin Uyainah Mengatakan, ” Ada seorang yang pulang dari bepergian. Dia sampai di rumahnya bertepatan dg Ibunya berdiri mengerjakan SHOLAT, orang tsb enggan duduk padahal Ibunya berdiri. Mengetahui hal tsb sang Ibu lantas Memanjangkan sholatNya, agar semakin besar pahala yg di dapat AnakNya.
(Kitab Karya Ibnu Jauzi)

Ali Bin Abi Thalib adalah orang yg sangat berbakti kepada Ibunya, sampai~sampai ada orang yang Berkata padanya. ” Engkau adalah orang yg paling berbakti pada Ibumu. Akan tetapi kami tidak pernah MelihatMu makan bersama Ibumu?”
Beliau Menjawab, ” AKU TAKUT KALAU TANGANKU MENGAMBIL MAKANAN YG SUDAH DILIRIK OLEH IBUKU “.
Sehingga Aku Mendurhakainya.
(Kitab Karya Ibnu Qutaibah)
Subhanallah…. Bagaimana dengan kita..??

5. SYAHWAT DUNIAWI DAN SYAHWAT RUHANI

Ada dua faktor yg dapat menghijabi hamba dlm memandang Allah, yaitu syahwat duniawi dan syahwat ruhani……
Dua syahwat tsb berpotensi menjadi hijab seseorg, antara lain keinginan utk meraih derajat dunia dan akhirat……
Dunia kaitannya dg adat tabiat, sedangkan akhirat berkaitan dg derajat ruhaniah…

Syahwat duniawi ialah rasa cinta yg berujung ingin memiliki dan menguasai apa saja yg ada di sekeliling kehidupannya. Sehingga seluruh ruang hatinya dipenuhi oleh rasa cinta thd sesuatu, hingga lupa kepada Allah….
Contohnya : Rasa cinta yang tumbuh kpd suami, istri, anak, harta, jabatan, ilmu nya dsb seperti diisyaratkan dalam firman-Nya :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita2, anak2, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang2 ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (Ali Imran : 14).

Ketika seorang suami sgt mencintai istrinya, kemudian dg cintanya itu sampai lupa memandang Allah, maka perempuan tsb menjadi hijab bagi suaminya. Selama seorg suami mencintai istri, tidak mungkin mencintai Allah…… Begitupun seorg istri yg mencintai suaminya, tidak akan bisa mencintai Allah….. Perlu dipahami di sini, bahwa sesungguhnya Allah itu pencemburu. Jika ada seorang hamba yg berani mengambil resiko dg mencintai selain diri-Nya, maka jangan harap akan sampai keharibaan-Nya…

Tapi jika suami istri tsb menerapkan cintanya sesuai dg kaidah tauhid, saling mencintai karena Allah,   sebagai penjabaran cintanya kpd Allah. Maka cintanya itu tdk menjadi hijab, bahkan bisa menjadi pemicu untuk mengangkat tirai2 hijab kpdNya….

Disamping syahwat duniawi, ada pula syahwat ruhani yang menjadi hijab. Syahwat ruhani itu bersifat kemegahan dan kenikmatan akhirat, termasuk di dalamnya keinginan utk mendapatkan rahasia2 yg ada di wilayah ruhaniah…… Seperti mendambakan derajat ruhani yg tinggi sampai ma’rifah, mendapat anugerah boleh keluar masuk alam jin, jadi waliyullah yg bisa bertamasya melihat2 syurga dan neraka, memiliki banyak karomah,  bahkan ingin jadi orang yg sempurna di wilayah ruhani dsb…..
Semua keinginan tersebut, sekalipun baik maksudnya, namun bisa menjadi hijab bagi orang yang sdg menuju Allah. Karena keinginan tsb, merupakan angan2 yang muncul dari syahwat yg tersembunyi (syahwatul khafiah). Hal itu juga dapat memalingkan atau menghijab perjuangan dan perjalanan seorang yg menuju Allah…..

4. TENTANG SHOLAT

Apakah ada cara lain yg lebih dekat kpd Allah dari pada shalat ? …..
Ada, yaitu dg shalat juga…….. Tetapi bukan shalat dalam bentuk luarnya saja…. Krn shalat yg disebutkan dlm pertanyaan itu bukan bentuk dari shalat itu sendiri, sebab ia memiliki pembuka dan penutup……..dua hal yg memiliki pembuka (awal)  dan penutup (akhir) dinamakan bentuk,  takbiratul ihram adalah pembuka shalat, dan salam adalah penutupnya……

Seperti syahadat…… Syahadat bkn merupakan suatu yg dilafalkan dengan bibir saja, tetapi syahadat juga memiliki permulaan dan akhiran…. Segala sesuatu yang diekspresikan dengan kata, suara, dan memiliki awal dan akhir adalah BENTUK.
Sementara jiwa dari syahadat itu tdklah terbatas dan tiada berawal dan tiada berakhir…….

Seperti shalat yang ditunjukkan para Nabi…. Nabi Muhammad SAW  menjlskan perihal shalat ini kpd kita semua melalui sabdanya: “Aku memiliki sebuah waktu bersama Allah yg tidak dpt dideteksi oleh Nabi2 lainnya maupun para malaikat yg dekat dg Allah”……. Dari sini, bisa kita pahami bahwa yg dimaksud Nabi Saw. adalah jiwa (Ruh) nya shalat ( ashalatul mi’rajul mu’minin)…… Bkn semata bentuk luarnya saja, melainkan kekhusyuannya yg sempurna……sholatlah kamu sebagaimana engkau melihat aku sholat…. Bgm melihat AKU dlm sholat….??  Bunuhlah dirimu ( qablal maut antal maut) keluarlah dari kampung halamanmu ( hijrah dari kesadaran lahiriah kpd kesadaran ruhaniah) ….. Shalat sendirinya,  rukuk sendirinya,  sujud sendirinya,  yg menyembah yg disembah itu jg… 

3. MASJID ( BAITULLAH )

Istilah masjid dalam bahasa Arab berasal dari kata sajada yg berarti bersujud (menyembah). Kata sajada yg mendapat awalan ma sehingga membentuk kata masjid mengandung arti tempat sujud, tempat ber-Ibadah kpd Allah….
Hadits yg diriwayatkan Turmudzi dari Abi Sa’id al-khudri yang berbunyi bahwa “Tiap potong tanah itu adalah masjid.” Selain itu dalam hadits yang lain Nabi Muhammad saw menerangkan bahwa “telah dijadikan tanah itu masjid bagiku tempat sujud.”….

Dari keterangan kedua hadits tsb jelas bahwa arti masjid itu sebenarnya adalah tempat sujud, bkn hanya sebatas sebuah gedung atau bangunan atau tempat ibadat yg tertentu seperti yang digunakan pada umumnya dewasa ini……

“Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi mereka pada hari tiada naungan selain naungan Allah yaitu diantaranya :

“…..dan seorang yang hatinya terikat dengan Masjid…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Dimanakah hakikatnya tempat sujud itu,  masjid itu…?  Yaitu pada satu tiang tujuh jendela diantara dua busur panah pd qalbun mukmin baitullah…..

Bukankah skg rmh2 kita telah menjadi masjid….
Sholatlah selalu di masjid wlupun sholat di rmh…
Sholat berjama’ahlah selalu, wlupun sendirian….

Masjid atau Baitullah atau Qalbu ini memiliki Pintu, dan PintuNya memiliki Kunci. Setiap manusia wajib bertamu di RumahNya ini, agar  mendptkan keselamatan sebagaimana yg dijanjikanNya. Untuk dpt membuka PintuNya, setiap manusia sudah dibekali bahkan memiliki Kunci untuk membuka pintu rumah -Nya, namun sayang blm banyak yg mengetahui bagaimana menggunakannya…..

Jalan untuk memasuki rumah Nya telah dicontohkan oleh Para Nabi, Para Shiddiqin, Para Syuhada, dan Para Shalihin. Itulah jalan Shirathal Mustaqim ( Jalan kebangkitan,  kebangkitan apa…??  Kebangkitan ruhaniah) …….. Karena sesungguhnya Allah meliputi langit dan bumi (Q.S 2:255), Allah juga meliputi kita  (Q.S 17:60), berarti semua manusia ini ada dalam DiriNya,  Allah Maha Halus dan Maha Mangetahui (Q.S 6:103), Allah meliputi timur dan barat, sehingga kemana pun engkau memalingkan wajah engkau, kan kau  dapati Allah  (Q.S 2:115), Allah   begitu dekat dengan manusia (Q.S 2:186),  Allah   selalu bersama manusia (Q.S 8:12) , Allah  lebih dekat kepadamu melebihi dekatnya urat lehermu (Q.S 50:16). Karena Allah dekat denganmu, maka “Rumah”Nya pun pasti dekat denganmu…..”Qalbun mukmin baitullah”…..
Untuk memasuki rumah Nya diperlukan Seorang Penunjuk Jalan, Rasul…. diperlukan  bantuan seorg Mursyid, bantuan seorang Guru Spiritual , seorang Ulama yang Warisatul Anbiya ( pewaris ilmunya para Nabi )……

Agar dimampukanNya Ashalatul mi’rajul mu’minin pada masjid, qalbun mukmin baitullah…….

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai