2. PUASA

Berbicara ttg puasa,  ada puasa awam,  khawas,  khawasul khawas atau bahasa yg lain puasa syariat,  tariqat,  hakikat dan ma’rifat……… 

Puasa syariat…… Menahan haus dan lapar ( puasa awam) 

Puaso tariqat….. Menahan panca indra, pikiran dan rasa (puasa khawas) 

Puaso hakikat…… Menahan bersitan2, lintasan2 di dlm hati ( puasa khawas) 

Puasa ma’rifat……

Adalah laku mi’raj itu sendiri yg dipraktekkan,  7 pertama pembuka,  10 kedua menetapkan,  7 pertama menutup 2 kemudian,  sekali naik melenyapkan,  sekali turun menyatakan,  3 pertama awalnya 1 kemudian…….. (memulangkan sifat ma’ani nan 7 di qablal maut antal maut utk mi’raj) yg mana disitulah yg dikatakan saat berbuka/terbuka ( mata basirah/qalbu) dan Liqa’ Allah…………(puasa khawasul khawas)…….

1. HAKEKAT MAKAN SAHUR

Sebelum membahas masalah hakekat sahur, sebaiknya kita hrs mengetahui apa tujuan dari berpuasa, krn salah satu sunah utk menjalankan berpuasa adalah makan sahur terlebih dahulu……

Istilah Shiyam berasal dari bahasa Arab, yg artinya mengendalikan, menahan atau mengekang….

Kadang Kata shiyam diterjemahkan dg istilah puasa, yg sebenarnya kurang tepat. Krn puasa berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya menyiksa…..

Inilah yg disebut salah kaprah….

Berdasarkan arti yg sebenarnya dari kata Shiyam ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa shiyam adalah suatu cara untuk mengendalikan atau menahan diri kita dari berbagai keinginan dasar atau fitrah manusia, yaitu aktifitas inderawi, seperti mendengar, melihat, mencium, mengucap, mengecap dan keinginan syahwat serta aktifitas akal…..

Berdasarkan pengertian ini, kita juga dapat menggolongkan tingkatan shiyam sebagai berikut :

1. Shiyam awm (umum) adalah tatacara mengendalikan aktifitas mengecap (makan minum) dan keinginan seksual….

2. Shiyam Khawas (khusus) adalah tatacara mengendalikan aktifitas melihat, mendengar, mengucap dan berfikir dan berperasaan yg bersifat negatif…..

3. Shiyam Khawasul Khawas (khusus dari yang khusus) adalah tatacara mengendalikan atau menahan aktifitas inderawi dan akal, secara total…..

Sedangkan tujuan kita melakukan Shiyam adalah agar menjadi orang yang terpelihara atau terjaga (mutaqin)….

Orang yang Mutaqin adalah orang yg selalu memelihara Nur Iman yg telah didapatkan setelah ia bersyahadat atau menyaksikan Allah untuk pertama kalinya…..

Nur Iman adalah Nur Ilahi yang telah disaksikan dengan mata qalbu dan telah tersegel (khatami) di qalbunya sebagai tanda sebagai orang yg beriman…..

Untuk memelihara Nur Iman tersebut, kita diharuskan melaksanakan shiyam khawasul khawas yang diawali dg melakukan sahur…..

Secara hakekat melaksanakan sahur adalah mempersiapkan diri dg ritual mengosongkan (takhali) dari rekaman2 negatif yg terekam oleh inderawi, kemudian mengisinya (tahali) dengan kalimat2 atau afirmasi Suci…..

Dari sekian banyak kalimat2 Suci, yang terbaik adalah Kalimat Tahlil…..

Setelah pengulangan kalimat2 suci tsb membuat diri menjadi muthmainah, maka dilanjutkan dg melakukan ibadah Shiyam Khawasul khawas untuk mendapatkan kenikmatan bertemu dg Allah dan kembali kepada Sang Fathir dengan Tajali yang sempurna…..

”Bagi orang yang bershiyam akan mendapatkan dua kenikmatan, yaitu kenikmatan saat kembali ke Afthar dan kenikmatan saat bertemu dg Tuhannya” (HR Bukhari)

”Berilah makan qalbumu dg hal2 Qudusan, pengosongan Takhali,  tahali

sebelum kamu melakukan Shiyam Khawasul Khawas,

agar kamu mendapatkan kenikmatan bertemu Tuhanmu

dengan Tajali yang sempurna”……..itu lah hakikatnya sahur… 

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA 1441 H

MOHON MAAF LAHIR BATHIN….



SHOLAT DALAM PANDANGAN AHLI SUFI

· Takbirotul Ihram

Di sini maksudnya, berpisah dari Alam Mulki dan fanalah hamba. ketika mengucapkan ‘Allahu Akbar’. Hanya sifat ‘yang menyembah’ saja yang tinggal sebagai penzohiran. wujud Alloh ‘Yang Disembah’. Ia bergerak dengan gerak Allah. Ia berkata-kata dengan kata-kata Allah. Takluknya dalam rahasia Titik bagi Alif – ‘Tiada’. Seperti kata Abu Yazid Busthomi, “Ariftu Robbi bi Robbi’. (Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku).[4]

· Membaca Fatihah

Ketika membaca Fatihah, terbukalah Pintu Alam Malakut bagi ‘yang menyembah’. Dia menyaksikan kalimat Allah melalui penyingkapan (syuhud) akan firman Allah; “Maliki yaw middin” di dalam Kerajaan Allah Ta’ala. Dari takluknya ‘Tiada’ ia menjadi Titik dari NurNya (Nur Muhammadi) . Dengan Nur Muhammad inilah ‘yang menyembah’ mengenal dirinya ‘man arofa nafsahu’ – sebagai ‘Ruh-Nya’ yang pernah dihimpunkan di Alam Lahut semasa Adam baru sempurna kejadiannya, yakni ketika Jibril menepuk tulang sulbi Adam, maka keluarlah semua ruh anak cucu Adam dari tulang sulbi Adam itu.

Adapun ‘Ruh-Nya’ itu pada hakikatnya adalah satu jua, yaitu daripada Sirulloh.Ruh anak cucu Adam itu hanyalah bayangan (menumpang) dari Ruh-Nya.Tanpa hadirnya Nur Muhamad, ‘yang menyembah’ tak mungkin bisa berhadap di depan Allah Ta’ala. Dengan perwujudan Nur Muhammad inilah maka ‘yang menyembah’ …. “ Kepada Engkaulah kami sembah dan kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan mereka yang Engkau berikan ni’mat, bukan (jalan) mereka yang Engkau murkai, dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.”. Maka di Amin kan akhir Fatihah itu oleh para malaikat dari setiap 7 lapis langit, yaitu dari: Alam Mulki, Alam Malakut, Alam Jabarut, Alam Bahut, Alam Lahut, Alam Ahut dan yang tertinggi Alam Al-Insan yang di sinilah kemuncaknya Sholat itu. Adapun maksud ‘jalan yang lurus’ bagi kalangan sufi ialah Mi’roj. Sebagaimana sabda Nabi SAW; “Sholat itu adalah mi’roj bagi mukmin”. Tujuan Mi’roj itu ialah Penyatuan, yakni kembalinya ‘yang menyembah’ kepada ‘Yang Disembah’.

Rukuk

Takluknya kepada huruf ‘Lam’ terzohirnya dari Alif – ‘yang menyembah’ menampakkan ‘Yang Disembah’. Alif adalah Kanzun Mahfiyyan (Yang Tersembunyi). Yang Tersembunyi ingin dikenali maka dizohirkan Lam sebagai tabirnya. Sabda Nabi SAW,”Dirikanlah sholat seolah-olah kau melihat Allah”. Para Arif Billah telah berkata bahwa”Siapa yang kenal dirinya, kenallah Tuhannya.” ‘Yang menyembah’ dinatijahkan seperti ‘angin’, manakala tatkala ‘yang menyembah’ pada posisi berdiri tadi, natijahnya adalah ‘api’ – fana dalam wujud. Api itu sifatnya membakar – yakni melenyapkan keakuan diri. Pada tahap ‘rukuk’ ini, ‘yang menyembah’ berada dalam suatu tarikan yang tersangat kuat dari Nur Muhammad. Justru itulah ia dinatijahkan kepada angin (tunduk dan menderu). ‘Yang menyembah’ ditarik masuk ke dalam Alam Jabarut dan berpisah dari Alam Malakut. Justru itulah kata para Arif Bilah , “Barangsiapa mencari Tuhan di luar dirinya, niscaya akan sesat.”. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ melepas qolbunya dan yang tinggal padanya adalah Roh-Nya yang akan naik ke lapisan yang lebih tinggi untuk kembali kepada Tuhan. Alam Jabarut yang menghubungkan Perbendaharaan Wujud (batas larangan yang tak bisa ditembus melainkan kepada Nur Muhammad) di antara yang ‘maujud’ – ‘yang menyembah’. ‘Yang menyembah’ mengenal dirinya di Alam Jabarut, maka tersingkaplah baginya seluas-luasnya wujud Alloh tanpa tabir bahwa ‘yang menyembah’ telah bersatu dengan ‘Yang Disembah’ sebagaimana adanya di dalam Misykat itu ialah Cahaya-Nya. (Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ). Maka bertasbihlah ‘yang menyembah’, “Maha suci Tuhanku yang Maha Agung dengan sifat kepujiannya”

Jika difahami ayat itu, maka pengertian bersatu dengan ‘Yang Disembah’ yang dimaksudkan di sini bukanlah mengambil kefahaman ‘Hulul’ sebagaimana yg diyakini oleh Mansur Al-Hallaj. Yang lebih ditekankan di sini ialah Wahdatusy-Syuhud (Kesaksian Penyatuan).

· I’tidal

‘Yang menyembah’ adalah yang dibangkitkan – ‘Yang menyembah’ masuk dalam ‘Pintu Kematian.’ “Matikanlan dirimu sebelum mati”. Di sini juga artinya ‘waqof’ (sementara) dalam Sholat.

Sujud Awal

Takluknya kepada huruf ‘Lam’ – juga huruf ‘Mim’. Nabi Muhammad SAW bersabda,”Aku dizohirkan ke dunia dalam keadaan sujud”. ‘Yang menyembah’ dinatijahkan kepada air. Air adalah sumber kejadian Alam Mulki. Arasy Tuhan berada di atas air. Maka ‘yang menyembah’ dinatijahkan kepada air, karena di sinilah ‘yang menyembah’ sampai di Alam Bahut. Alam Bahut adalah Pembatasan Terakhir Segala Penzohiran, Ungkapan Syeikh Akbar Ibnu Arobi; Syajarotul – Kaun (Pohon kejadian) atau sebutan yang sering juga disebut – Sidrotul Muntaha. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ adalah Ruh-Nya yang di dalam Sirr. Sabda Nabi Muhammad SAW ketika mi’roj baginda melihat Wajah Alloh, “Aku tidak tahu di mana aku berada”. Pada tahap ini juga ‘yang menyembah’ menyerap kepada ‘Yang Disembah’ seolah-olah ‘yang menyembah’ itulah ‘Yang Disembah,’ ‘Yang Disembah’ itulah ‘yang menyembah, – yang pada hakikatnya wujud terurai dalam fana fil sifat dan lebur dalam fana fil zat – ‘Melihat Alloh dengan Alloh’ – maka ‘yang menyembah’ diberikan pengetahuanNya – Anal Haq (Akulah Yang Benar’).

Dari sisi tahap ini, lihatlah kepada ‘Basmalla’. Hanya ‘Ba’ dalam Basmallah saja yang tercantum dengan Alif. Sabda Nabi SAW; “Seluruh kitab Al-Qur’an itu terkandung dalam Al-Fatehah. Dan seluruh Al-Fatehah itu terkandung dalam Basmallah. Dan Basmallah terkandung dalam huruf ‘Ba’. Dan rahasia ‘Ba’ itu adalah Titik di bawahnya” Inilah yang dimaksudkan oleh Syekh Ibnu ‘Arobi Wujud Kesatuan – Wahdatul Wujud. Maka bertasbihlah ‘yang menyembah’, “Maha suci Tuhanku yang Maha Mulia dengan sifat kepujian-Nya.”

· Duduk diantara 2 Sujud

Takluknya pada huruf ‘Ha’ besar dan juga ‘Ha’ kecil (maksudnya selepas huruf Jim). ‘Yang Menyembah’ telah dikurniai ‘Baqo’ setelah fana fil sifat dan fana fil zat. Dengan dikurniai ‘Baqo’, barulah ‘yang menyembah’ dapat memasuki Perbendaharaan Rahasia Tuhan – Ilahiyat – pada sujud yang akhir nanti, sebagaimana diistilahkan oleh para Arif Billah melalui tiga tahapan, Yaitu ; ( Ahadiat, – Wahdat, – Wahadiat ). Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Lahut – Alam Tiada, yang tiada sesuatu pun yang tercipta, tiada awal dan akhir, ‘yang menyembah’ menyaksikan kekosongan tanpa perbatasan, dan disinilah awalnya Diri yang kemudiannya dizohirkan sebagai Adam. Di kalangan sufi, ia juga diistilahkan ‘Negeri ‘Adami’. Diri (‘yang menyembah’) dinisbahkan kepada air yakni Air Mutlak, inilah asal-usul manusia dari alam tiada ‘La’.

Pada tahap ini juga ‘yang menyembah’ adalah di dalam Sirr-Nya – Ruh-Nya dalam keghoiban Nur Muhammad. Haqiqot Ruh-Nya adalah Nur Muhammad. Di sinilah ia bermunajat; “ Tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, afiatkanlah aku dan maafkanlah aku.”

Sujud Akhir

Takluknya pada rahsia huruf ‘Ha’ – yang tak kelihatan atau bunyi diujungnya ‘Hu’ dan juga huruf ‘Mim’. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Ahut’ pada nisbahnya air yang di bawah ‘Arasy Tuhan . Yang tinggal pada ‘yang menyembah’ adalah Sirulloh. Di dalam Sirr, inilah Aku. Kata Ahli Sufi, ‘Air dalam gelas, tak dapat dibedakan lagi. Air itulah gelas. Gelas itulah air.” ‘Yang menyembah’ itulah ‘Yang Disembah’ dalam gedung makrifat, bukan dalam gedung syari’at, gedung thoriqot dan gedung haqiqot. Pahamkanlah ini ‘Yang menyembah’ tidak bisa menjadi ‘Yang Disembah’ dalam arti haqiqot. Ini hanya pada makrifat semata-mata. Ingatlah, bukan faham hamba yang bertukar menjadi Tuhan. Camkan air di dalam gelas, bersatu dalam kejernihan. Lihatlah pada ‘ombak’- ombak hanya pada nama yang diberikan padahal itu air yang beriak dan menggelora.

Pada sujud akhir inilah, ‘yang menyembah’ memasuki Wilayah Ilahiyat:
· Ahadiat – Zat Mutlak atau Zat wajibal wujud
· Wahdat – Zat Yang Maha Esa
· Wahadiat – ILAH – Zat yang maha kaya daripada tiap-tiap sesuatu yang lain dan sesuatu yang lain memerlukannya.

Zat ingin dikenali sebagai Kanzun Mahfiyyan. Di sinilah terbitnya ungkapan ‘Kun’ jadilah maka jadilah ia.

· Duduk Tahiyat Akhir

Takluknya pada huruf Dal. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Al-Insan, dinisbahkan kepada tanah ketika ia duduk – dalam kesempurnaan. Dia yang mengenal dan Dialah yang dikenal pada akhirnya. Dialah yang turun dan naik dalam mi’roj.“Rahasia Insan RahasiaKu, RahasiaKu Rahasia Insan”.

Di Alam Insan, ‘yang menyembah’ diliputi dengan Wujud, Ilmu, Nur dan Syuhud, maka Zat adalah rahasianya, Sifat adalah ruhnya, Asma’ adalah qolbunya dan Af’al adalah tubuhnya. Di sinilah ia mengucapkan Selamat sejahtera (tahiyat) ke atas Nabi dan rahmat Alloh dan keberkatan-Nya. Juga kepada hamba-hamba yang solihin sekaliannya. Dialah yang menyaksi dan dialah yang bersaksi tiada Tuhan melainkan Alloh dan Muhammad adalah utusan Allah swt.

· Salam

“Salamun qowlam mir-robbir- rohiim”. Inilah salam ahli syurga. Syurga inilah yang dinikmati oleh ‘yang menyembah’, yakni syurga yang di dalamnya tanpa bidadari, sungai, buah-buahan dan pepohonan. Di syurga inilah ‘yang menyembah’ terlena memandang Wajah Alloh.

Perlu kita renungi ini adalah sutu konsep atau pandangan dari para Arif Bilah yang pemahamannya sudah jauh dari manusia awam, yang perlu kita tekankan sholat (sujud) adalah salah satu rahasia diri kita, jadi tidak perlu diungkapakan dengan kata-kata bagaimana aku sholat (sujud), cukuplah untuk diri kita pribadi,. (semuanya jadi kosong). tapi jika kita berkholwat silahkan berbicara sebebas – bebasnya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai